Cinta Manusia-Manusia Langit

>> Minggu, 19 Oktober 2008

Cinta adalah karunia Allah. Bahkan Allah menciptakan alam semesta ini karena cintaNya. Karenanya ALAM DAN DUNIA INI ADALAH LAUTAN CINTA. Kekuatannya mampu meluluhlantahkan arogansi diri dan kerendahan materi. Maka bukan tanpa alasan seorang Saini KM menuliskan bait-bait terakhirnya dalam puisi Burung Hijau :

Saat kamu tengadah dan dengan tersipu berkata:
'Memang', yang terbaik dari diri kita layak disatukan.
Saya pun mabuk karena manis buah berkah, dan melihat:
Malaikat menghapus batas antara dunia dan akhirat.

Ibnu Qoyyim Al jauziyah pernah berkata tentang arti sebuah cinta : 'Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.'

Kenyataannya, SEJARAH ISLAM MENCATAT KISAH-KISAH CINTA MANUSIA-MANUSIA LANGIT DENGAN TINTA EMAS DALAM LEMBARAN-LEMBARAN SEJARAH PERADABAN. Sebuah sejarah yang mengartikan cinta bukanlah utopia dan angan-angan kosong belaka dalam ebuah potret realita.

  • Tak apalah meregang nyawa bagi seorang Hisyam bin 'eAsh takkala mendengar seorang saudaranya merintih kehausan dalam peperangan Yarmuk, memberikan air miliknya sementara bibir bejana hampir menyentuh bibirnya. Atau indahnya ungkapan yang diberikan seorang sahabat yang mencintai sahabatnya karena Rabb-Nya. Atau seorang Rasul yang memanggil umatnya takkala sakaratul maut menyapa dirinya. Teringat episode cantik dalam sejarah seorang wanita yang rela menukar cinta dan hatinya dengan Islam sebagai maharnya. Takkala Rumaisha binti Milhan dengan suara lantang menjawab pinangan Abu Tholhah, seorang terpandang, kaya raya, dermawan dan ksatria 'Kusaksikan kepada anda, hai Abu Tholhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela engkau menjadi suamiku tanpa emas dan perak. Cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku !' Akhirnya tinta emas sejarah mencatatnya sebagai seorang ummu Sulaim yang mendidik anaknya, Anas bin Malik dan dirinya sebagai perawi hadits Rasulullah sementara suaminya menjadi mujahid dalam sejarah Islam. Melagu hati Sayyid Qutb dalam nada angan akan sebuah keinginan. Lompatan jiwanya melebihi energi yang ada. Baginya kehidupan dunia bukanlah segalanya. Ia belokkan gelora yang ada hanya pada pencipta-Nya yang dengannya syahid menjadi pilihan hidupnya. Tiada mengapa tanpa wanita.
  • Gejolak gelora percintaan Rabiah dengan Rabbnya mengajarkan keikhlasan akan sebuah arti penghambaan. Tak sanggup rasanya mengikutinya yang mengharap Ridho-Nya sekalipun neraka menjadi pilihan akhir tempat tinggalnya.
  • Lain pula kisah sang Kekasih Allah, Nabiyullah Ibrahim 'Alaihissalam. Sebuah kisah yang menggoreskan samudra hikmah kehidupan bagi manusia yang mengedepankan ketundukan dan kepasrahan yang terbalut cinta daripada darah daging sendiri untuk menjadi persembahan.

Adakah CINTA YANG MASIH ADA DI HATI KITA MENYAMAI ATAU BAHKAN MELEBIHI CINTA MEREKA TERHADAP APA YANG MEREKA CINTAI? Jika tidak, lantas APA YANG MEMBUAT KITA MEMBUSUNGKAN DADA DAN MENGKLAIM SEBAGAI PECINTA SEJATI HANYA LANTARAN BUNGA-BUNGA KATA TANPA MAKNA REALITA YANG KITA LONTARKAN?

Diri KITA SERINGKALI MENCARI PEMBENARAN (APOLOGI) ATAS KETIDAKMAMPUAN DAN KETIDAKBERDAYAAN DALAM MENGAKUI SEGALA KELEMAHAN YANG KITA MILIKI. Jika cinta yang mereka hadirkan dapat begitu mempesona bukan hanya karena mereka para sahabat dan shabiyah atau para Nabi dan Rasul. Perlu diingat, mereka juga adalah manusia yang mempunyai keinginan dan kecenderungan sebagaimana manusia biasa. Artinya kecintaan mereka dapat kita duplikasikan pada diri kita.

Lihatlah bagaimana SEJARAH MENCATAT KEMBALI ARTI SEBUAH CINTA ANAK MANUSIA DALAM AKHIR HAYATNYA, sebuah cinta yang dihadirkan oleh mujaddid akhir zaman, Hasan Al Banna yang mendahulukan iparnya Abdul Karim Mansur untuk diberi pertolongan justru pada saat tujuh peluru masih bersarang ditubuhnya...

Ibnu Taimiyah berkata, 'MENCINTAI APA YANG DICINTAI KEKASIH ADALAH KESEMPURNAAN DARI CINTA PADA KEKASIH.' Teori ini bukanlah teori belaka. Teori ini merupakan SEBUAH KONSEKUENSI LOGIS DARI SEBUAH CINTA. Segala daya dan upaya akan menjadi tak berharga jika ia dapat menjadi serupa. Hal ini berlaku kebalikannya. MEMBENCI APA SAJA YANG DIBENCI KEKASIH ADALAH KESEMPURNAAN DARI CINTA PADA KEKASIH. Amboi, indahnya jika semua itu dilandasi atas kecintaan kepada Rabb-Nya. Dan menundukkan kecintaan lainnya karena ia hanyalah kenikmatan sesaat.

Sesungguhnya siapakah kita ini kekasihku?
Hanya setitik debu melekat di bintang mati.
Menggeliat sejenak karena embun dan matahari:
Hanya sedetik dalam hitungan tahun cahaya.

(Saini KM)

Jika saja Sapardi mengungkapkan kekuatan keinginan cintanya dengan bait-baitnya :

Aku ingin,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Dj. D),
maka ISLAM MENGAJARKAN INDAHNYA CINTA DALAM UNTAIAN DO'A :

' Ya Alloh, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu. Telah berjumpa dalam taat pada-Mu. Telah bersatu dalam da'wah pada-Mu. Telah terpadu dalam membela syari'at-Mu. Kokohkanlah, Ya Allah ikatannya, kekalkan cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal pada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan ma'rifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong...'

Read more...

Suasana Nyaman Bikin Kita Produktif

>> Sabtu, 20 September 2008

Subhanallah...

Rasanya banyak bener yang udah di kerjakan hari ini. Pas di fikir-fikir ini karena suasana yang nyaman di Laptop. Jadi semangat deh, nah sekarang ana mau ngasih tau nih apa yang buat ana semangat ?

kemaren lagi browsing ana nemuin link untuk tampilan windows versi 7 [karena udah bosen dengan tampilan XP bertahun2] so ana download aja deh.....


Download Theme Windows 7


nah terus setelah di Instal....luar biasa tampilannya nyaman sekale dan ini cocok ama YM 9 yang udah duluan ana Instal, [padahal mah kemaren ngeluh2, bilang YM 9 ngak nyaman] ternyata karena ngak serasi ama thame windows nya [itu dia sebabnya]
;))

So....kalo kita mau produktif bekerja buatlah suasana nyaman di sekitar antum, atau kalo ternyata tingkat kenyamanan sudah mulai menurun dari biasanya, antum harus berinisiatif untuk merubah suasana di sekitar antum.

neh salah satu yang ana kerjain : www.akhikhwan.multiply.com [udeh ana permak tuh, Mampir ya..!!]

nah antum mau percaya atau ngak, yang jelas ana udah ngebuktiin ;))

ok, selamat produktif akhy wa ukhty

[ngak pake lama ngerubah mood]

Read more...

Kawanku..Remaja Laki-Laki Belasan Tahun **)

>> Senin, 01 September 2008

asap masih mengepul dari reruntuhan. kayu kayu yang telah menjadi puntung hitam tak sanggup lagi menyangga atap. bau terpanggang masih jelas dikenali hidung. beberapa orang berseragam coklat masih terlihat sok serius mencatat di kertasnya. beberapa orang lagi mengelompok membincangkan sesuatu. sementara lainnya ,menatap nanar le arah tembok putih yang telah dilukis oleh jilatan api yang terlihat sama sekali tidak indah bagiku.

pagi itu seorang remaja belasan tahun terlihat lesu. di penghujung bulan yang begitu disakralkan banyak orang. sesaat kemudian dia bangkit, berusaha menghapus lelah dan sedih di wajahnya. dia bangkit..setelah sesaat terpuruk..hanya sesaat. ringan sekali pergantian mimik itu bagai aktor yang telah beberapa kali mendapatkan piala citra.raut ketabahan jelas terlihat oleh ku yang hanya berada sedepa dari nya. ah kawan..apa yang ada dalam benakmu sekarang?


kawanku..remaja laki laki belasan tahun yang telah diwariskan saeorang kakak perempuan dan tiga orang adik oleh ayahnya yang telah berpulang beberapa tahun lalu.sekarang rumah satu-satunya pun telah dipanggil oleh yang memilikinya.ibunya, perempuan separuh baya itu tanpa sengaja menjatuhkan lilin ke ceceran bensin yang sehari hari dijualnya dan menghanguskan semuanya...

aku merasa beban itu terlalu berat baginya.satu orang kakak perempuan, tiga orang adik, dan seorang perempuan separuh baya yang selalu dipanggilnya ibu yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit dengan wajah melepuh dijilati api.bagaimanapun kawanku itu masih remaja belasan tahun yang baru saja meninggalkan masa kanak-kanaknya. bahunya belum cukup lebar menyangga beban seberat itu

beberapa hari kemudian aku menemukan diriku salah. sama sekali salah, dia bukan remaja belasan tahun, dia adalah seorang pria..yang sanggup bangkit dalam keterpurukan.kitab kitab yang telah dibacanya dan ilmu yang telah dipelajarinya bertahun tahun benar benar membantunya..saat inilah sebenar-benarnya iman.disaat terjepit..disaat lapar..disaat tak ada tempat berteduh.bukan omongan kosong diatas mimbar saat amplop menari nari dipelupuk mata.bukan wacana di gedung dewan disaat perut kenyang.

dia masih bersyukur, bahkan disaat orang awam merasa tak ada lagi yang patut disyukuri.dia masih ingat tuhan disaat orang lain merasa tuhan telah lupa padanya.aah...anak sekecil itu.telah sanggup melakukan apa yang mungkin belum sanggup aku lakukan.bahkan oleh sebagian orang yang telah lebih tua dariku.

hari itu kulihat iman sebenar benarnya.sesuatu yang sulit kujumpai pada zaman ini.iman yang kulihat bukan dari pria tua bersorban dan berkopiah haji.bukan dari gentleman yang bersafari, bukan dari pria pria tampan berjenggot dan bekas hitam didahinya, bukan dari lelaki yang selalu kudengar ocehannya setiap jumat..tapi dari seorang remaja sederhana belasan tahun..berkaus lusuh dan memakai jeans..dia kawanku..

____________________

**) tulisan ini milik salah satu sahabat baik uni ria.kata uni Ria : kemarin malam dalam keadaan lelah karena suatu keperluan saya membacanya, sangat menyentuh.. dan dia bilang ini kisah nyata....
saya jadi ingat dosa yg semakin menggunung dan iman yang entah apa kabarnya hari ini.. dan ditambah sedih kalau ramadhan telah menjelang dan saya rasanya belum menyiapkan apa-apa.. Allah, ramadhan kali ini saya tak punya banyak impian lagi, sedikit saja dan berharap itu dapat terwujud di akhir bulan nanti..

buat semuanya... selamat menunaikan ibadah-ibadah ramadhan.. mohon maaf lahir dan bathin...


Read more...

SOLIDITAS, RESPONSIBILITAS, PRODUKTIFITAS Da’i

>> Minggu, 17 Agustus 2008

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar” [QS Ali imran 146]

Terkait dengan ayat ini ada tiga hal yang menentukan kemenangan dakwah, yang harus ada pada diri kader :
1.soliditas :
2.responsibilitas
3.produktifitas



Untuk membangun tiga hal tadi, maka di perlukan beberapa hal :
1.kita harus membangun keikhlasan dalam beramal
Satu laki2 pada pagi hari berniat akan bersedekah, malam hari disedekahkan kepada seorang pencuri, pagi2 gempar karena memberi ke pencuri, akhirnya dia niat lagi akhirnya sedekah lagi ke penzina, kali ketiga kepada kaya yang kikir, masya gempar lagi. Pada malam hari laki2 bermimpi di datangi malaikat. Bahwa sedekah yang ngekau berikan sedekah kepada pencuri akan mengubahnya. Bahwa Allah melihat niat nya kepada siapa ngak masalah

Orang tidak tentu jadi ikhlas kalo dikondisikan.
Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)

2.Kita harus merajut Tali Ukhuwah
Dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
“Maukah engkau Saya beritahukan tentang derajat yang lebih baik daripada shalat, puasa, dan sadaqah? Para sahabat menjawab, "Tentu" Nabi bersabda, "Mendamaikan permusuhan diantara manusia, dan kerusakan diantara manusia yang menghancurkan agama."
Shahih, di dalam kitab Al Halal wal Haram (8/40). [Abu Daud, 40- Kitab Al Adab, 50- Bab/ii Ishlahi Dzatil Bayyin. Tirmidzi, 35- Kitab Al Qiyamah, 56- Bab Haddatsana Abu Yahya]

3.Upaya yang sunguh-sunguh
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna [QS An Najm 39-41]






Read more...

MUHASABAH, ini loh Sholat ku

Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (HR. An-Nasaa'i dan Tirmidzi)

Sholat merupakan suatu bagian yang sangat penting bagi umat Islam sebagai aplikasi dari keimananya, tidak dapat dikatakan beriman dengan baik seorang muslim bila tidak melakukan sholat. Maka sudah selayaknya lah kita sebagai seorang muslim untuk bermuhasabah terhadap kualitas sholat yang kita lakukan.




Apakah sholat yang kita lakukan dalam beberapa waktu dilakukan dengan khusyu atau tidak. Huzaifah ra, mengatakan perkara yang utama yang hilang dalam ummat adalah khusyuan dan yang terakhir adalah sholat. Boleh jadi anda bertemu dengan jama’ah sholat namun tidak ada diantara mereka yang khusyu .

Sahabat ditegur dalan surat Al Hadiid ayat 16,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [al hadiid 16]

Ibnu qoyyim Al jauzi membagi manusia dalam sholat menjadi 5:
1.orang yang lalai dalam mengerjakan sholat [di azab oleh Allah]
2.Orang yang mengerjakan sholat namun iya lalai dalam memujahadah melawan bisikan dan pikiran2 yang menggangu jiwanya [tidak khusyu] [akan di hisab]
3.Orang yang Sholat dan Berjihad, yaitu sanggum mengusir bisikan setan dalam sholat.[akan Dihapus Dosanya]
4.Orang yang hatinya tengelam dalam sholat dan ibadah kepada Rabbnya
5.Orang yang mendirikan sholat dengan menghadirkan hatinya di hadapan Allah SAW.

Agar Sholat kita berkualitas maka kita harus
1.Quwwah al murthadhoo: Memahami apa yang di baca
2.Dharbul Masyakil : Berusaha sekuat mungkin menghalangi hal2 yang merintangi sholat yang khusyu.

Read more...

Kejujuran Karakter Seorang Muslim

>> Minggu, 20 Juli 2008

kejujuran sudah menjadi bahan langka dalam kehidupan ini, anak berbohong kepada orangtua, bawahan kepada atasan, adik kepada kakak, orangtua kepada anak, atasan kepada bawahan, kakak kepada adik, korupsi merajalela, produk-produk bajakan bertebaran di mana-mana. Dan banyak lagi masalah-masalah ketidak jujuran muncul dengan mode dan trend yang beragam dalam masyarakat kita.



Dari Abdullah lbnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Selayaknya bagi kamu untuk berlaku jujur, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menghantarkan ke surga. Sesungguhnya, seseorang jika berlaku jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.Hindarilah berlaku dusta, karena dusta mengantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantarkan ke neraka. Sesungguhnya seseorang jika berlaku dusta akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta."
[Shahih, di dalam kitab Adh-Dha'ifah (6323). Bukhari]
Dari Hadits diatas tentu mengambarkan sebagai muslim kita harus berupaya untuk menyempurnakan diri kita dalam beragama dengan kejujuran yang tertanan dalam berbagai aspek kehidupan kita, karena kejujuran adalah sebab dari suatu banyak akibat-akibat keburukan yang akan mengikutinya.

Banyak kisah tentang nilai-nilai kejujuran yang telah di tayangkan dalam kehidupan sebelumnya, semisal kisah Sahabat Ka’ab Bin Malik ra, yang tidak berangkat dalam perang khandaq dan mendapat iqab dari Rasulullah SAW. Di mana ka’ab adalah seorang sahabat yang termasuk pandai dalam berbicara dan berorasi, namun dia berkata saat menjelaskan alasan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW seandainya yang di depanku bukan Engkau maka tentu aku akan berbohong kepada mu” kejujuran Ka’ab bin Malik ra inilah yang menyebabkan dirinya di iqabnya dengan hukum pemboikotan oleh kaum muslimin selama 40 hari. Sampai akhirnya Ayat Al Qur’an turun yang menerang bahwa beliau di ampuni oleh Allah SWT. Para ulama tafsir mengatakan bahwa beliau di ampuni karena berkata jujur sementara banyak orang-orang munafik yang tidak ikut peperangan tersebut yang tidak di hokum karena kebohongannya. Karena kejujuran itulah Ka’ab bin Malik ra di muliakan Allah dengan AyatNya.

Atau kisah Al Mubarak seorang pembantu yang bertugas di kebun buah majikannya untuk menjaga kebun tersebut. Pada suatu saat beliau di minta oleh majikannya untuk mengambilkan satu buah yang manis, setelah buah di ambil dan di makan oleh majikannya ternyata buah itu asam, lalu majikan nya berteriak hai Mubarak ambilkan lagi buah yang manis ini asam, lalu di ambilkannya lagi ternyata masih tetap asam. Sampai yang ketiga kalinya dan masih tetap asam, sang majikan bertanya “hai mubarak apa kamu tau cirri-ciri buah yang manis?” beliau menjawab “tidak tuan”. “Apakah selama menjaga kebunku kamu tidak pernah memakan buah ini?” beliau menjawab ”tidak karena aku hanya di perintahkan untuk menjaga kebun ini ”. Sampai sang pemilik kebun tertegun atas kejujuran yang di perlihatkan pembantunya. Dan Majikan tersebut berkata “ Wahai mubarak, aku memiliki seorang putri, siapakah yang menurut kamu patut untuk menikahi putrid ku. Mubarak berkata “orang yahudi menikah karena kekayaannya, orang nasrani karena paras wajahnya, Qurais karena keturunanya, maka nikahkanlah putri tuan dengan orang yang baik agamanya” Akhir cerita Mubarak di nikahkan dengan putri pemikik kebun tersebut yang terkenal kecantikan, dan agamanya.

Kisah-kisah di atas tentu bisa menjadi pelajaran bagi kita bagaimana pentingnya kejujuran. Sementara kejujuran itu bisa kita bagi menjadi beberapa bagian:
1.Jujur dalam niat dan kehendak
Ada kisah seorang badui yang akan di bagi ghanimah dan berkata kepada Rasulullah SAW, aku berperang bukan karena ini dan itu namun aku berperang karena ingin mendapat kesyahidan dengan luka di sini dan disini sambil menunjuk leher dan tangan. Lalu Rasulullah SAW berkata kalo memang engkau meniatkan itu dengan jujur maka engkau akan memperolehnya. Dan benar sang Badui syahid dengan terluka di bagian leher dan lengannya.
2.Jujur dalam perkataan
Mungkin kebohongan yang paling tepat mengambarkan ketidak jujuran dalam hal perkataan. Banyak orang yang senang berbohong untuk menyelamatkan dirinya dari kewajiban-kewajiban atau lain hal.
3.Jujur dalam perbuatan
Kisah khalifah Umar bin khatab yang mengantar sekarung gandum di karenakan beliau mendengar seorang anak gadis yang menasehati ibunya yang akan menambahkan air pada susu yang akan dijual. Setelah itu sang anak gadis menjadi menantu dari beliau dan nantinya akan memiliki cucu seorang pemimpin umat selanjutnya yaitu khalifah umar bin abdul aziz.
4.Jujur dalam menepati janji
Kita sering melihat fenomena-fenomena yang mengecewakan akhir-akhir ini di mana seorang muslim sangat mudah untuk ingkar terhadap janji. Semisal jadwal rapat yang terlambat karena menungu seseorang yang belum datang, dan lain sebagainya.
5.Jujur dalam tekad yang benar
Umar bin Khatab ra, pernah berkata “sungguh kejujuran itu memudahkanku padahal jarang merendahkanku. Maka itu lebih aku sukai daripada diangkatnya derajatku karena kebohongan.”

Read more...

BAGAIMANA BERDAKWAH DI KAMPUS

>> Senin, 14 Juli 2008

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. ( QS:Al-Kahfi 13)

Pengantar

Para pemuda dan pemudi merupakan sasaran dakwah yang paling potensial. Mereka berada dalam usia yang penuh vitalitas dan semangat yang dibutuhkan Islam untuk melakukan perombakan ummat. Diantara generasi muda ini, para pelajar dan mahasiswa merupakan potensi terbesar bagi dakwah dan gerakan Islam. Karena itu adalah wajar bila dakwah memprioritaskan pembinaan mereka sebelum pembinaan kelompok lainnya.


Dalam dakwahnya, Rasulullah menjadikan para pemuda sebagai sasaran dakwah yang utama. Beliau juga menjadikan para pemuda yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi di masyarakat sebagai sahabat-sahabat Beliau. Dalam tahapan dakwah awal di Mekkah, tidak ada satu sahabat Beliau pun yang rendah akalnya atau berusia di atas Beliau kecuali Istri Beliau sendiri, Khadijah al Kubro Rodiyallahu anha. Abu Bakar As Siddiq misalnya adalah seorang ahli sejarah Quraisy, Ali Bin Abi Thalib merupakan remaja yang sangat cerdas dan tangkas, menjadi harapan para pemuka Quraisy. Usman Bin affan terkenal dengtan kepandaiannya dalam berekonomi. Umar Bin Khattab merupakan pemuda berwibawa dengan jiwa kepemimpinan yang menonjol. Saad Bin Abi Waqqash terkenal dengan ketangkasan dan kecerdasannya. Sahabat yang lain, kendati tadinya budak seperti Bilal atau Zaid Bin Haritsah, merupakan orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi.

Sikap Rasulullah ini adalah karena Al Qur’an menunjukkan bahwa para pemuda merupakan sasaran dakwah yang potensial dan akan mampu membawa panji perubahan di masyarakat seperti pada kisah Ashabul Kahfi:

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. ( QS:Al-Kahfi 13)

Sebagai generasi muda para pelajar dan mahasiswa memiliki fitrah yang lebih mudah disentuh dengan siraman ruhiyah yang dapat menghasilkan keimanan. Sementara sebagai kalangan intelektual, mereka umumnya memiliki kesiapan untuk menerima Islam sebagai Din Ilmu dan Amal. Lebih dari itu, suasana kampus memberi keleluasaan untuk pengkajian studi-studi Islam. Kebebasan mimbar di kampus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan dakwah.

Pelajar dan mahasiswa juga terbukti merupakan motor penggerak perubahan masyarakat sepanjang masa. Karena itu pembinaan terhadap mereka perlu mendapat perhatian serius, jangan sampai kita didahului oleh pergerakan yang bathil dan menyesatkan. Kreatifitas dan sifat inovatif mereka merupakan potensi yang penting bagi pergerakan. Itulah sebabnya dalam fiqhud dakwah, merekalah yang paling potensial untuk menjadi anasirut taghyir (unsur-unsur perubah) masyarakat.

Perubahan yang terjadi pada mereka dapat mempengaruhi opini umum masyarakat dan memberi rangsangan bagi kelompok-kelompok masyarakat lain untuk turut berubah. Terbukti misalnya dengan ksus jilbab yang berlangsung pada pelajar SMA umum dan Perguruan Tinggi Umum. Masyarakat menaruh perhatian serius bahkan banyak yang menaruh simpati. Bahkan, diantara kaum wanita umum pun kemudian mulai mengikuti jejak mereka yang berjilbab tanpa canggung atau malu. Yang menggembirakan, sekolah-sekolah Islam yang dikelola kaum muslimin yang tadinya acuh terhadap masalah jilbab, kemudian mewajibkan pelajar-pelajar putrinya berbusana muslimah.

Penerimaan dakwah yang syamilah pun dimulai melalui alur kampus. Bahkan sampai saat ini kegiatan dakwah ini masih berorientasi di sekitar kampus. Memang dakwah tidak boleh terperangkap sebagai gerakan masyarakat kampus tetapi ia tidak bisa menghindarkan diri dari menjadikan para pelajar dan mahasiswa sebagai pelopor-pelopor awalnya.

Manakala dakwah berkembang, maka secara bertahap ia tidak boleh menjadikan kampus sebagai markas utamanya lagi. Kampus hendaknya hanya dijadikan sebagai basis umum pergerakan di kalangan pemuda. Sosialisasi dakwah di luar kampus harus dilakukan dengan memasang strategi dakwah kampus yang sebaik-baiknya sehingga tetap menjadikan kampus sebagai ajang dakwah yang semarak dan pelopor perubahan ummat.

Maka dakwah di kampus bukanlah dakwah takwiniyah tetapi dakwah aamah (harokah zhohiroh), tanpa meninggalkan asholah dalam minhaj tarbiyah.

Dakwah aamah di kampus bertujuan membentuk potensi yang akan menambah elemen kekuatan Islam. Takwiniyah (pengkaderan) hendaknya tetap berlangsung bagi para mahasiswa dan pelajar terpilih. Namun aktifitas dakwah takwiniyah ini tidak boleh tampak kecuali hasil-hasilnya. Kampus harus diwarnai dengan dakwah umum yang digerakkan oleh para mahasiswa dalam pengkaderan kita dan terhindar dari bahaya gerakan haddamah baik dari luar Islam maupun dari kalangan kaum muslimin.

Membawa dakwah zhohiroh ke kampus hendaknya menggunakan skala pemikiran yang lebih luas. Di satu sisi, setiap kampus baik yang umum maupun Islam tetap harus dikuasai, tetapi di lain sisi takwiniyah tidak boleh berhenti.

Untuk mensuksekan dakwah di kampus hendaknya dipersiapkan perimbangan pertumbuhan tiga unsur berikut:

1. Kader aktifis dakwah kampus yang mampu berdakwah fardiyah. Mereka hendaknya dikhususkan dalam menunjang dakwah zhohiroh dan ditempatkan sebagai anggota tetap masyarakat kampus:sebagai pelajar, mahasiswa, dosen, atau guru misalnya. Atau sebagai ilmuwan/peneliti yang akrab dengan dunia kampus. Mereka hendaknya mampu menjadi pelopor-pelopor aktifitas dakwah zhohiroh, menjadi qudwah dalam amal Islami dan menjadi tonggak-tonggak Islamisasi kampus.
2. Pengarahan dakwah kampus yang sesuai minhaj, tanpa kehilangan asholah tetapi dapat diterima oleh masyarakat kampus. Ini dilakukan oleh elemen-elemen gerakan dakwah terkait secara hati-hati dan matang, melibatkan aktifis dakwah kampus yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, guru, dosen, serta yang memiliki keterlibatan dengan dunia kampus.
3. Berbagai organisasi yang menjadi bungkus pergerakan di kampus, berbentuk lembaga atau organisasi. Sarana ini menjadi pos dakwah yang memiliki satu warna yang khas dan diminati oleh para pelajar dan mahasiswa karena kebersihan dan kebaikan penampilannya. Persiapan yang meliputi fasilitas tidak kami singgung dalam pembahasan di sini.

Dengan tumbuh seimbangnya ketiga persiapan diatas, dakwah di kampus Insya Allah dapat terealisir dengan sebaik-baiknya.

Pokok Pembahasan
Karena dalam kampus kita hanya melakukan dakwah umum maka dalam pembahasan ini kita hanya akan membicarakan:

1. Dakwah Aamah di Kampus ,Memperkenalkan tentang pengertian dakwah aamah serta keadaan kampus pada umumnya.
2. Pribadi Aktifia Dakwah Kampus, Menjelaskan sifat-sifat yang sebaiknya dimilikioleh para aktifis fdakwah kampus.
3. Dakwah Fardiyah, Menjelaskan tentang langkah-langkah rekruiting dakwah di kampus serta tahapan-tahapan dakwah fardiyah. Kemudian bagaimana mengajak mad’u ke dalam pengkajian Islam lebih lanjut.
4. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Dakwah, Menjelaskan dasar-dasar yang harus diketahui para penyelenggara dakwah di kampus sehingga dapat melakukan kegiatan dakwah mereka dengan sukses.
5. Untuk Para Mubaligh dan Da’I Kampus, Menjelaskan persiapan-persiapan yang diperlukan seorang mubaligh atau da’i ketika berdakwah di kampus.


Read more...

DAKWAH UMUM DI KAMPUS

Setelah memahami bab ini diharapkan para aktifis dakwah kampus mengenal kondisi medan dakwahnya serta terdorong untuk meningkatkan aktifitas dakwah

Dakwah adalah menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga mereka yang didakwahi itu mengingkari segala bentuk pengabdian kepada selain Allah dan mengimani Allah dan mereka keluar dari kegelapan sistem hidup jahiliyyah menuju kepada terangnya jalan Islam.



Pengertian “menyeru kepada jalan Allah” menunjukkan tingginya nilai kegiatan dakwah “Dakwah” merupakan suatu risalah Ilahiyyah yang terpuji dan mulia. Para penyeru ke jalan Allah tentu merupakan manusia pilihan Allah yang disayangi-Nya. Mereka merupakan aparat-Nya untuk menyampaikan hidayah dan bimbingan Allah. Firman Allah:
Siapakah yang lebih baik perkatannyan dari orang yang menyeru ke jalan Allah dan berkata, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Islam)”. (QS Al Fushshilat 33).

Rasulullah bersabda:
Dan seandainya Allah menunjuki sebab engkau, maka itu lebih baik baik dirimu dari pada dunia dan segala isinya. (HR Bukhori Muslim)

Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan maka dia mendapat pahala sesuai dengan yang diperoleh orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR Muslim)

Barangsiapa memberi contoh yang baik, maka ia memperoleh pahala seperti orang yang mengikutinya (HR Ahmad dan lainnya)

Tak ada kegiatan yang lebih mulia dan tugas yang lebih utama dihadapan Allah dari berdakwah ke jalan-Nya. Bukankah dengan dakwah ini kita melanjutkan Risalah Rasulullah Sallalahu Alaihi Wa Sallam, manusia yang paling mulia dan dicintai Allah?

Berdakwah di kampus merupakan bagian integral dari dakwah secara umum. Ia tidak berbeda dengan dakwah kepada manusia lain, hanya obyek dakwahnya memiliki ciri khas tersendiri, yaitu orang-orang terpelajar atau mereka yang mengaku sebagai intelektual atau calon-calon intelektual. Maka tujuan dakwah di kampus ini adalah mengajak para pelajar, mahasiswa dan dosen untuk mengenal Allah, Rasul dan Islam, dengan cara bijaksana dan pelajaran yang baik sehingga mereka beriman dengan keesaan Alllah, kelanjutan risalah, dan kebenaran Islam.

Metode yang baik dan bijaksana dalam dakwah di kampus adalah metode yang dapat diterima oleh obyek dakwah kampus pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen; dengan tidak menyalahi sunnah Rasulullah. Pelajar dan mahasiswa akan lebih mudah diajak mengenal Allah, Rasul, dan Islam melalui hal-hal yang akrab dan mereka geluti sehari-hari. Pendekatan keilmuan akan sangat membantu keberhasilan dakwah ini. Namun, menyentuh sisi fitrah lebih penting lagi karena obyek dakwah disini umumnya sangat kering dari unsur ruhiyah serta merindukan hidupnya fitrah mereka sebagai manusia yang tengah mencari bentuk pribadi dan jatidiri.

Sasaran dan target dakwah kampus sama saja dengan sasaran dan target dakwah secara umum. Hanya perlu disadari, masyarakat kampus akan menjalani suatu masa yang tertentu di kampusnya msing-masing. Mereka mempunyai kesempatan terbatas di samping selalu digeluti oleh masalah-masalah studi. Jadi pendekatan dakwah yang menyeluruh ini hendaknya mempertimbangkan faktor tersebut. Kesempatan mereka berada di kampus merupakan peluang yang mahal bagi pembinaan, karena kondisinya sangat sesuai untuk penumbuhan berbagai macam kafaah yang diperlukan oleh gerakan dakwah.

Dari itu dakwah umum di kampus hendaknya mengambil batasan yang jelas dalam sasaran dan target yang hendak dicapai. Yang terpokok adalah aktifis dakwah kampus berhasil menyajikan Islam sebagai kebutuhan fitrah insaniyah mereka sekaligus memberikan wawasan tentang integralitas Islam serta peranan mereka dalam kebangkitan Ummat Islam.

Urgensi Dakwah Umum di Kampus
Dengan tumbuh suburnya berbagai kegiatan umum di kampus, kampus akan tampil sebagai pelopor kegiatan Islam. Hal ini membangkitkan elemen-elemen masyarakat lain untuk ikut terlibat berpartisipasi sehingga opini Islam di kalangan masyarakat akan mudah terbentuk.

Karena itu, dakwah Islam perlu menampilkan kegiatan-kegiatan yang diterima secara umum dan menjadi wahana bagi pengembangan kepribadian para pelajar, mahasiswa, dan dosen muslim di kampus. Kegiatan-kegiatan ini sebenarnya telah berlangsung tetapi masih belum sepenuhnya diwarnai dengan Islam atau dikendalikan oleh kita. Ironisnya kegiatan-kegiatan tersebut tidak jarang dikendalikan oleh orang-orang yang jauh dari ajaran Islam.

Kampus itu merupakan mercusuar masyarakat di satu negeri, karena memberi dampak sosial yang cukup berarti… Dari itu, kita perlu mempertahankan kesinambungan peranan kampus untuk mendukung aktifitas dakwah secara umum. Sehingga bilamana diperlukan, gerakan dakwah dapat menggerakkan para mahasiswa dan pelajar untuk memberi dukungan bagi aktifitas-aktifitasnya dalam rangka mebentuk opini Islam di masyarakat.

Faktor ini kini dirasa semakin kurang mendapat perhatian. Bahkan ada kecenderungan para aktifis dakwah kampus untuk meninggalkan dakwah aamah di kampusnya dan berorientasi pada dakwah takwiniyah semata. Padahal sebuah gerakan dakwah yang baik akan mampu menguasai seluruh aspek kegiatan Islam secara bertahap dan seimbang sehingga kelak dapat menggerakkan berbagai lapisan masyarakat.

Kondisi Kampus Sebagai Medan Dakwah
Kampus adalah lahan yang subur untuk manuver dakwah Islam. Ia berbeda dengan perkantoran, pabrik, pasar, dan lain-lain. Orang-orang yang datang ke kampus memang telah siap untuk menuntut ilmu dan mengembangkan penalarannya. Mereka bersikap terbuka dan kritis terhadap perubahan yang datang.

Namun satu hal yang perlu diingat, dewasa ini, masyarakat kampus umumnya tidak dididik untuk memahami Islam dengan benar, juga tidak dengan metode yang Islami, meskipun kampus tersebut dibuat oleh kaum muslimin (Perguruan Tinggi Islam).

Akibatnya masyarakat kampus memiliki kondisi khas yang merupakan korban pola pendidikan jahiliyyah yang bertumpu pada beberapa segi:

1. Sikap berpikir ilmiah yang cenderung sekuler.
2. Kebebasan berpendapat yang menafikan nilai-nilai wahyu.
3. Kegiatan pendidikan (co education) yang melanggar akhlak.
4. Kegiatan ekstra kurikuler yang laghwi (tidak bermanfaat ukhrowi)

Hal ini menjadikan masyarakat kampus kering dari nilai-nilai Islam. Mereka yang berminat untuk memperbaiki diri dan kepribadiannya mencari-cari berbagai jalan. Di saat seperti ini masuklah berbagai harokah haddamah (gerakan yang menghancurkan) ke dalam kampus sehingga menjadikan kampus sebagai arena utama mencari kader.

Masyarakat kampus adalah sasaran utama ghazwul fikri yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Boleh dikatakan, tiada kampus yang sunyi dari upaya-upaya tasykik, tasywih, tadzwib, dan tafkir. Orang-orang Nasrani sengaja memasukkan berbagai jenis kesenangan dan hiburan yang digandrungi para pemuda. Mereka mengupayakan masyarakat kampus lalai dan jauh dari ajaran Islam. Mereka tidak segan-segan mempopulerkan berbagai acara sekuler dan bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Berbagai organisasi kemahasiswaan diwarnai oleh sekularisme sebagai hasil masukan pemikiran Yahudi dan Nasrani. Organisasi mantel Yahudi seperti Rotary dan Lion juga telah mnyebar di kampus-kampus.

Kita lihat berbagai jenis dakwah Islam mulai menempati tempat yang subur di kampus. Gerakan yang bersifat Juz’i pun mendapat tempat di hati masyarakat kampus, bahkan berkembang khususnya di kampus-kampus sekolah negeri.

Saat ini, kelompok mahasiswa sekuler masih cukup dominan di kampus-kampus. Mereka ini menganggap diri netral dan tidak berpihak pada satu golongan tertentu. Padahal keadaan mereka jelas merupakan pengaruh dari rancangan zionisme dan missionaris internasional. Jumlah mereka di berbagai kampus biasanya mayoritas. Lebih dari itu, mereka inilah yang biasanya menguasai kelembagaan-kelembagaan kampus sehingga berbagai kegiatan kampus berwarna sekuler.

Studi tentang medan dakwah kampus terkait dengan unsur-unsur berikut ini:
1. Peraturan yang berlaku di kampus

* Keputusan pemerintah tentang lembaga-lembaga kampus
* Keputusan Mendikbud tentang kurikulum
* Keputusan pimpinan tentang peraturan-peraturan otoritas kampus masing-masing

2. Suasana ilmiah yang dibentuk kampus tersebut

* Perpustakaan
* Laboratorium
* Studio

3. Suasana lingkungan kampus

* Pemondokan (asrama, tempat kost, kontrak rumah, dsb-nya)
* Sarana-sarana ibadah (mesjid, gereja, pura, dsb-nya)
* Sarana-sarana hiburan dan olahraga (diskotik, stadion/lapangan olahraga, bilayard, video game/play station, bioskop, dsb-nya)

4. Kecenderungan umum para pengajar beserta karyawan-karyawan di kampus tersebut
5. Kecenderungan mahasiswa atau pelajarnya

* Kecenderungan pada kegiatan fisik
* Kecenderungan pada kegiatan seni
* Kecenderungan pada kegiatan ilmiah
* Kecenderungan pada kegiatan sosial
* Kecenderungan pada kegiatan kerohanian


Maka para mahasiswa di kampus dalam pandangannya terhadap Islam dapat kita golongkan dalam:

1. Mereka yang antipati terhadap ajaran Islam (non Islam, sekuler, nasionalis)
2. Mereka yang tidak perduli terhadap ajaran Islam (floating mass)
3. Mereka yang menaruh minat terhadap Islam tetapi belum menemukan jalan
4. Mereka yang sangat antusias terhadap Islam tetapi mengambil jalan yang salah
5. Mereka yang terlibat dengan dakwah Islam di kampus

Ditinjau dari sisi dakwah, kondisi kampus dewasa ini sangat memprihatinkan. Termasuk di sekolah atau universitas yang berlabelkan Islam. Langkah penyelamatan hendaknya segera dilakukan untuk kejayaan Islam wal muslimin.

Sarana-Sarana Dakwah Umum di Kampus

Sarana-sarana untuk kegiatan dakwah umum dan pergerakan terbuka di kampus antara lain:

1. Unit kerja kerohanian Islam pada jajaran kerja SMPT/BEM atau seksi kerohanian OSIS
2. Forum-forum seperti latihan manajemen, latihan kepemimpinan, kursus kader koperasi, kursus jurnalistik, studi terhadap minat dan lain-lain
3. Himpunan-himpunan jurusan atau profesi
4. Buletin, majalah dinding, jurnal
5. Mesjid kampus
6. Panitia Hari Besar Islam
7. Kegiatan kerohanian di asrama mahasiswa dan pemondokan
8. Dan lain-lain


Read more...

PRIBADI AKTIFIS DAKWAH KAMPUS

Setelah memahami bab ini hendaknya para aktifis dakwah kampus mampu bersikap dan bersifat ihsan dalam melakukan aktifitas dakwah di kampusnya masing-masing

Siapakah yang dimaksud aktifis dakwah di sini?
Aktifis dakwah kampus yang dimaksud di sini buknlah semata-mata berarti ia seorang mubaligh atau ahli seminar di kampus-kampus. Tetapi juga setiap ikhwah yang terlibat dalam kegiatan dakwah kampus. Mereka hendaknya aktif berperan serta dalam dakwa aamah dan harokah zhohiroh di kampus tersebut. Tidak ada alasan untuk meninggalkan tugas dakwah ini. Keterlibatan setiap aktifis dakwah kampus berpengaruh besar terhadap kelancaran program dakwah aamah di kampusnya.



Setiap aktifis dakwah di kampus harus memahami betul medan dakwah yang akan dihadapinya. Karena ini merupakan modal dasar yang penting di samping modal kefahaman dakwah itu sendiri. Ia dituntut untuk memiliki sifat-sifat yang mampu mengantispasi gejolak obyek dakwah. Lebih dari itu diharapkan mampu menjadi problem solver dan pembimbing yang handal bagi para mad’unya.

Agar memiliki daya tarik (kharisma) yang kuat di kalangan obyek dakwah kampus maka hendaknya setiap aktifis dakwah kampus melengkapi dirinya dengan sifat antara lain:
A. Sifat-Sifat Dasar
Sifat-sifat ini sesuai dengan sifat-sifat yang diperlukan oleh seorang penyeru ke jalan Allah pada umumnya. Dalam pembahasan ini, kita akan mengemukakan dalil-dalil bagi sifat tersebut dan kaitannya dengan aktifitas dakwah kampus.
1.Niat Yang Ikhlas
Ikhlas merupakan modal utama setiap da’i. Dakwah kita harus benar-benar menyeru ke jalan Allah (da’iyan ila sabilillah). Dalam mengajak manusia, termasuk para pelajar atau mahasiswa, kita tidak boleh mengharapkan yang lain daripada ridha Allah. Inilah kunci keberhasilan dakwah kita. Firman Allah:Itulah karunia yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. Katakanlah,’Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. (QS Asy-Syura 22).

Dalam berdakwah di kampus, seorang aktifis dakwah kampus tidak berambisi menonjolkan dirinya, mencari popularitas, pengaruh, atau jabatan tertentu di dunia kemahasiswaan. Ia mengarahkan niatnya semata-mata untuk meninggikan agama Allah dengan menyebarkan syi’ar Islam di tengah lingkungan kampusnya. Ia senantiasa menghindar dari sifat riya yang menghapuskan amal. Sesungguhnya yang aku takuti dari kamu adalah syirik yang halus yaitu riya (HR Bukhori).

Keikhlasan ini dibangun oleh hubungan yang kontinyu dengan Allah, dalam ibadah dan pendekatan ruhiyah. Orang yang dekat kepada Allah, senantiasa akan mengarahkan aktifitas hidupnya untuk jalan Allah. Sebaliknya orang yang jauh dari jalan Allah tidak akan bersifat ikhlas dalam hidupnya.

Dalam dakwah di kampus sifat ikhlas ini akan teruji dalam berbagai keadaan. Seperti ketika memilih mad’u yang hendak kita dakwahi, sewaktu mengarahkan mereka ke jalan Allah dan sebagainya. Seorang aktifis yang ikhlas misalnya, akan memilih mad’u berdasarkan kepentingan Islam bukan berdasarkan kepentingan pribadi.

2.Benar Dan Jujur
Setiap aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki sifat siddiq. Siddiq artinya benar dan jujur dalam menyampaikan kebenaran ajaran dinullah. Tidak membuat-buat kedustaan atas nama Dinullah untuk maksud-maksud tertentu. Kejujuran itu merupakan wasilah (sarana) penghubung dalam dakwah dan membawa ke jalan kebaikan.

Rasulullah bersabda:Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke syurga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran, dia tercatat di sisi Allah seorang yang jujur. Hati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang berdusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong). (HR Bukhori)

3.Amanah Dan Tidak Khianat
Aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki sifat amanah terhadap berbagai tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya. Amanah utama adalah menyampaikan ajaran Islam kepada obyek dakwah kampussesuai dengan kebutuhan ummat dengan metode yang minhaji, serta ditunaikan dengan sebaik-baiknya.

Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Anfal 27)
Sesungguhnya sifat amanat merupakan ciri khas orang mukmin, sedangkan khianat merupakan watak orang munafik.

4.Tawadlu Dan Berprestise
Setiap aktifis dakwah kampus hendaknya bersikap tawadlu (rendah hati) terutama terhadap sesama anggota masyarakat kampus yang beriman. Sikap tawadlu akan meningkatkan derajat pribadi sehingga menjadi berwibawa dan berkharisma. Sebaiknya sifat sombong dan memalingkan muka dari manusia akan mengakibatkan kebencian orangnya dan jatuhnya derajat kita.

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku ”bertawadlulah (rendahkan diri) hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya”. (HR Muslim). Sifat tawadlu tidak akan menjatuhkan gengsi seseorang , bahkan akan menaikkan prestisenya. Bila seseorang yang intelek memiliki sifat tawadlu, masyarakat pun akan menaruh hormat, karena dia sebenarnya dimuliakan Allah dengan ilmunya. Rasulullah bersabda: Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang memaafkan melainkan kemulyaan. Dan tiada orang yang bertawadlu (merendahkan diri) karena Allah melainkan dimuliakan oleh Allah. (HR Muslim)

5.Lemah Lembut, Pemaaf dan Penyantun
Sifat lemah lembut merupakan modal utama para aktifis dakwah karena sifat ini akan membuatnya luwes dalam bergaul menghadapi berbagai lapisan masyarakat termasuk lapisan pelajar dan mahasiswa. Jiwa muda membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang terpancar dari kelemahlembutan. Rasulullah juga memerintahkan agar para du’at bersikap lemah lembut, pemaaf, dan penyantun.

Untuk memberikan gambaran kecintaan Allah kepada orang yang lembut ini Beliau bersabda: Sesungguhnya allah lunak, suka pada kelunakandan memberi karena kelunakan dan ketenangan apa-apa yang tidak didapat dengan kekerasan, terburu-buru dan sebagainya. (HR Muslim)

6.Sabar Dan Teguh Pada Pendirian

Aktifis dakwah kampus akan berhadapan dengan para pelajar dan mahasiswa yang notabene merupakan produk sistem jahiliyyah yang kini tengah berlaku. Kita menyadari betapa besar potensi dan peranan mereka bagi dakwah dan ketinggian ajaran Islam, dari sudut intelektualitas, sikap kritis, maupun prospek masa depan. Karena itu, hendaknya kita shabar dengan teguh dalam berdakwah di kampus. Hendaknya ada kesiapan untuk kerja keras dan ekstra ketat karena akan menghadapi berbagai tantangan dari pihak-pihak yang sama-sama berkepentingan terhadap obyek dakwah kampus. Karena itu, hendaknya kita beradu kesabaran dengan mereka. Mengapa mereka begitu shabar dalam kebathilannya sementara kita tidak sabar untuk menetapi kebenaran?
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetap bersiap siaga. Bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat kejayaan. (Ali Imron 200).

B. Sifat-Sifat Khusus
Di samping sifat-sifat dasar bagi juru dakwah, aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki pula sifat khas untuk menghadapi obyek dakwahnya yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa, dan sivitas akademika lainnya. Penjabaran dari sifat-sifat ini kita kaitkan dengan kepentingan dakwah di kampus. Beberapa sifat tersebut antara lain:

1.Kritis
Ikhwah aktifis kampus hendaknya kritis terhadap permasalahan yang sedang trend di masyarakat, dapat memberikan suatu tanggapan yang positif dan Islami terhadap berbagai permasalahan yang ada. Hal ini tercermin dalam sikap dan pembicaraannya. Sifat kritis dapat dikembangkan dengan selalu mengikuti berita-berita yang ada di mass media.
Sifat kritis dibutuhkan untuk menghadapi pola pikir mahasiswa yang kritis dan realistis. Mereka ingin mendapatkan jawaban Islam yang mampu mengantisipasi realitas yang ada da tidak mau dijejali dengan teori-teori semata.
Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berkualitas) dalam segala kegiatan. (HR Muslim).

2.Lugas Dan Terbuka
Bersifat lugas artinya lincah dan fleksibel, tidak bersikukuh dengan satu uslub atau cara dalam rangka melakukan suatu tindakan. Selalu terbuka dalam menerima ide-ide baru yang positif dari berbagai pihak. Jangan mempersempit ruang gerak sendiri dengan terlalu memaksakan ide sendiri atau menimbulkan banyak musuh dengan menolak pandangan-pandangan dan ide-ide yang kurang sesuai dengan keinginan kita.

Sesungguhnya, ide dan pandangan obyek dakwah kampus biasanya rapuh dan cepat sekali berubah. Belum ada suatu bentuk baku pada pandangan mereka. Untuk merubahnya, hendaknya kita mau menyelami pemikiran mereka sedikit kemudian melakukan perubahan secara sistematis dan akurat, bukan menolak langsung.

Sifat terbuka sesuai dengan karakteristik ulul albab. Allah berfirman: Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az Zumar 17-18).

3.Memiliki Leadership
Aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Mampu untuk mengelola suatu kegiatan, mengambil keputusan, memimpin pertemuan, memenej organisasi, dan lain-lain. Juga memahami segi-segi administrasi modern yang saat ini berlaku.

Hal ini sangat dibutuhkan baik sebagai wasilah (sarana) dakwah maupun dalam prencanaan atau pelaksanaan dakwah sendiri. Aktifis yang mampu untuk menerobos pada kelembagaan-kelembagaan yang ada baik intar maupun ekstra jelas harus memiliki bekal ini sehingga ia mampu mewarnai, merembes, sampai dapat mengendalikan suatu kegiatan sehingga memiliki nilai dakwah yang baik tanpa kehilangan sifat pribadi muslim dan aqidah Islamiyyahnya.

Sesungguhnya dakwah sekarang memerlukan kader-kader yang bersifat Aliimun Za’iim (pandai dan mapu memimpin) dan Hafidzun Amiin (pemelihara dan terpercaya).
Jiwa pemimpin yang diperlihatkan Rasulullah seperti suka bermusyawarah, memaafkan kesalahan orang, bersikap lunak, dan lain-lain. Sebagaimana dikemukakan Al Qur’an:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lembut kepada mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusywarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakklah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS Ali Imron 159)



Read more...

DAKWAH FARDIYAH DI KAMPUS

Setelah memahami bab ini aktifis dakwah kampus diharapkan mampu untuk melakukan dakwah fardiyah dan membimbing para mad’u yang potensial kepada halaqoh-halaqoh

Sosok aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki kemampuan daya rekrut yang tinggi. Bagi para pelajar, mahasiswa dan dosen kita, daya rekrut ini hendaknya terus-menerus ditingkatkan dengan berbagai jalan. Salah satunya adalah dengan dakwah fardiyah yang intensif terhadap pelajar atau mahasiswa yang berpotensi di kampusnya masing-masing.
Dakwah fardiyah di kampus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dakwah fardiyah untuk masyarakat umum. Bahkan di sini kita mendapat kesempatan yang lebih luas untuk melakukan pendekatan ilmiah melalui buku-buku, studi Islam, kegiatan-kegiatan Islam, dan lain-lain. Pendekatan yang diberikan hendaknya juga sesuai dengan bidang yang diminati mad’u.


Dakwah fardiyah hanya merupakan satu dari sekian banyak uslub dakwah yang efektif untuk melakukan pembinaan. Pada prinsipnya, Islam membuka jalan selebar-lebarnya bagi perkembangan uslub dakwah ini, sepanjang tidak menyalahi metode yang bijaksana dan pengajaran yang baik.

Firman Allah: “Serulah ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik”. (QS An Nahl 125).
Rasulullah bersabda: “ Tidaklah seharusnya orangmenyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang”. (HR Dailami)

Dakwah fardiyah mempunyai akibat dan kesan yang baik pada pada mad’u, karena mad’u terkontrol sepenuhnyaoleh seorang aktifis dakwah. Selain itu dakwah fardiyah merupakan jembatan antara dakwah aamah dan takwiniyah. Ia dilakukan pada tahap permulaan untuk dakwah aamah dan ditahap pertengahan untuk pengkaderan.

Langkah-Langkah Dakwah Fardiyah Di Kampus
1.Inventarisasi Potensi
Langkah penting dalam memulai dakwah fardiyah di kampus adalah menginventarisasi potensi kampus. Gunanya untuk memetakan sasaran dakwah yang akan dilakukan. Inventarisasi ini dilakukan bersama-sama dengan aktifis dakwah kampus lain di kampus tersebut. Bisa juga dengan melibatkan mereka yang kenal dengan kondisi kampus seperti para alumni, guru, dan sebagainya, dengan tanpa menimbulkan kecurigaan dalam pengumpulan datanya.

Inventarisasi potensi bisa pula memanfaatkan data-data statistik yang ada pada sekolah, jurusan, fakultas, atau universitas yang bersangkutan. Ini dilakukan minimal setiap pergantian semester, terutama pada saat penerimaan pelajar dan mahasiswa baru. Agar efektifnya kegiatan ini, hendaknya para aktifis dakwah kampus yang ada dalam suatu kampus/sekolah mengadakan pertemuan rutin.

2.Memilih Mad’u
Bila aktifis dakwah kampus telah mengenal kondisi medan dakwah kampus yang dihadapi, maka ia wajib memilih mahasiswa-mhasiswa yang potensial untuk diadakan pendekatan pribadi. Pilihan dilakukan berdasarkan syuro dalam pertemuan yang melibatkan seluruh aktifis dakwah kampus yang terlibat dalam kampus yang bersangkutan atau lembaga dakwah yang kita bentuk. Yang dimaksud pelajar dan mahasiswa potensial di sini adalah mereka yang memiliki kemampuan penalaran yang tinggi dan mempunyai fitrah yang baik untuk dikembangkan ke arah amal Islami di masa datang walau mungkin saat ini perilakunya belum Islami.

3.Melakukan Pendekatan
Kita perlu memilih langkah yang tepat untuk merekrut pelajar, mahasiswa atau dosen tersebut. Pendekatan bertujuan untuk membina hubungan baik (silaturrahim) yang kelak akan ditingkatkan pada hubungan dakwah. Kunci dari keberhasilan dakwah ini adalah keteladanan. Keteladanan yang diberikan aktifis dakwah kampus akan memberikan hasil yang maksimal.

Jenis-jenis pendekatan yang bisa dilakukan antara lain:
•Pendekatan Jasa
Ini sebaiknya dilakukan di tahap awal dakwah fardiyah. Biasanya para mahasiswa dan pelajar yang baru masuk sangat membutuhkan bantuan dari kakak-kakak kelas mereka (senior) seperti pencarian pemondokan, biaya sekolah, bea siswa, dan sebagainya. Alangkah baiknya bila aktifis dakwah kampus membantu mereka untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas kampus kendati hanya sekedar informasi. Mereka yang memperoleh bantuan ini biasanya merasa sangat berhutang budi dan patuh kepada orang yang menolongnya sehingga mudah didakwahi.

•Pendekatan Ilmiah
Dengan memberikan bimbingan pelajaran yang diperlukan oleh mereka yang kita arahkan. Ini bisa dilakukan dengan tentir-tentir dalam berbagai mata kuliah atau mata pelajaran tertentu yang biasanya dianggap sulit. Dalam bimbingan tersebut, tentu saja kita selipkan hal-hal yang bisa menyentuh fitrah keislaman mereka. Pemberian buku-buku pelajaran, diktat, alat-alat praktek, dan sebagainya, yang dibutuhkan oleh mereka akan sangat membantu.

•Pendekatan Keluarga
Yaitu Pendekatan berdasarkan hubungan famili dengan mad’u yang hendak kitapilih. Misalnya kaka terhadap adik, paman terhadap keponakan, dan sebagainya. Pendekatan ini biasanya cukup efektif.

•Pendekatan Kurikuler
Yaitu pendekatan yang memanfaatkan penyelenggaraan kurikulum pelajaran sekolah yang bersangkutan. Bagi para aktifis dakwah kampus yang telah menjadi dosen melalui pelajaran yang diajarkan atau dengan memberi tugas-tugas khusus yang membuatnya lebih jauh berkenalan dengan calon mad’u. para senior bisa memanfaatkan saat-saat OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) untuk melakukan hubungan dan menawarkan berbagai jasa.

•Pendekatan Non Kurikuler
Yaitu pendekatan yang memanfaatkan kegiatan-kegiatan non kurikuler seperti olahraga atau kesenian. Tetapi para da’i hendaknya berhati-hati melakukan pendekatan ini, jangan sampai terperosok pada hal-hal yang laghwi. Para aktifis dakwah kampus yang memiliki keahlian tertentu dapat memanfaatkan keahliannya dalam pendekatan ini. Misalnya seseorang yang mampu melakukan beladiri hendaknya menggunakan beladiri tersebut untuk wasilah dakwah fardiyah ini.

Dalam pendekatan hendaknya tidak terlalu ngotot terhadap orang-orang tertentu yang dianggap potensial. Sebenarnya orang-orang yang mau mengikuti jalan dakwah ini adalah manusia-manusia pilihan Allah. Tidak mustahil orang yang kita anggap potensial ternyata sukar disekati. Bershabarlah dalam melakukan pendekatan karena keberhasilannya sangat tergantung kepada hidayah Allah terhadap seseorang.

4.Tahapan Dakwah Fardiyah
Bagian terpenting pembahasan ini adalah melakukan dakwah fardiyah kepada mad’u yang telah berhasil didekati. Dalam hal ini perhatikan langkah-langkah berikut:

•Memperkenalkan mad’u dengan kebesaran Allah, kemuliaan dan keagungan-Nya dalam berbagai segi.
Memperkenalkan mad’u pada kebesaran Allah merupakan langkah awal dari setiap dakwah fardiyah. Pendekatan yang paling tepat untuk ini adalah melalui bidang studi yang digeluti oleh para mad’u. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa para pelajar atau mahasiswa yang punya kecenderungan pada ilmu-ilmu murni mudah didekati melalui disiplin ilmu yang mereka amati. Sementara para pelajar atau mahasiswa yang kecenderungannya ilmu sosial memerlukan penjelasan Islam yang rasional dan menyentuh masalah-masalah fitrah kemanusiaan mereka.

Mad’u dapat kita perkenalkan pada keagungan dan kemuliaan Allah melalui obrolan-obrolan sederhana tetapi memberikan masukan imani ke dalam hatinya. Atau dengan memberikan buku-buku aqidah yang sederhana dengan penjelasan yang menggunakan ayat-ayat kauniyah. Mad’u juga dapat diperkenalkan pada Allah melalui gejala-gejala sosial kehidupan yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

•tentang keindahan dan kesempurnaan ajaran Islam.
Setelah pemahaman mad’u tentang kebesaran Allah terbentuk, ia perlu mengerti tentang ajaran Islam. Maka kewajiban selanjutnya adalah menyajikan Islam dalam penampilan yang sebaik-baiknya. Islam yang difahamkan kepada mad’u hendaknya merupakan prinsip-prinsip dasar, jauh dari ikhtilaf yang ada pada kaum muslimin. Yang paling penting bagi mad’u di kampus adalah segera memahami aksioma (albadihiyat) dalam islamdan melihat keselarasan Islam dengan sunah kauniyah (sunnatullah di alam semesta). Jauhkan mad’u dari memandang Islam secara sempit atau sukar dipelajari karena terlalu banyak atribut. Bila upaya ini berhasil, rincian Islam akan ia pelajari sendiri dengan bimbingan kita.

Di tahap ini, dakwah aamah biasanya memberi peran yang besar dalam menimbulkan perubahan pada diri mad’u. Karena itu untuk lebih menyempurnakan interaksi mad’u dengan Islam, hendaknya mereka mulai dibawa pada kegiatan Islam di kampus seperti mendengarkan ceramah, diskusi keislaman, dan sebagainya yang bersifat teoritis.
•Mengadaptasikan mad’u pada suasana hidup Islami.

Yaitu dengan membawa mad’u pada kegiatan-kegiatan praktis Islam. Seperti mengikutsertakannya pada rihlah, jambore, wisata Islam, pengkajian tafakur di alam terbuka, dan sebagainya. Bisa juga dengan melibatkan mad’u pada pada kepanitiaan kegiatan dakwah, bazar Islam dan sebagainya. Mad’u hendaknya dilibatkan dalam pembentukan opini Islam yang dibentuk di kampus.

Target yang ingin dicapai pada langkah ini adalah membuat mad’u merasakan kenikmatan suasana Islami yang penuh kekompakan dan persaudaraan. Pada gilirannya ia mempunyai kesimpulan bahwa Islam adalah pedoman hidup yang sempurna dan tidak ada kelemahannya. Dengan demikian mad'u ’kan bangga dengan Islam dan mulai mengislamisasikan dirinya atau memperlihatkan identitas Islam dalam penampilannya sehari-hari.

•Membimbing mad’u dalam beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah
Kita perlu memperbaiki hubungan mad’u dengan Allah dengan memberikan penjelasan-penjelasan praktis tentang ibadat seperti sholat, membaca Al Qur’an, melakukan shoum sunnah dan sebagainya. Beberapa hukum fiqih yang sederhana hendaknya mulai diperkenalkan kepada mad’u. Dengan memberikan buku yang praktis atau dengan memb erikan contoh langsung. Tetapi kita harus menghindarkan mad’u pada bentuk-bentuk ikhtilaf yang membawa pada perpecahan.

Sekarang ini banyak mahasiswa memerlukan perbaikan dalam membaca Al Qur’an tetapi enggan belajar karena tidak ada pembimbing. Banyak pula mahaiswa yang ingin melakukan sholat tetapi tidak mau mengerjakan karena tidak ada yang membimbing.
Setelah langkah keempat ini tsiqoh mad’u akan semakin meningkat, di saat itulah kita bisa melakukan kegiatan untuk mengarahkan mad’u pada kegiatan dakwah khusus atau pengkaderan.
•Mengantar mad’u untuk memperdalam ajaran Islam dalam halaqoh-halaqoh tarbiyah.
Kita mulai mengajak mad’u untuk mengikuti mukatsaf tentang islam atau mendorongnya belajar kepada seorang ikhwah yang mampu membina. Memungkinkan, ia bisa dibina sendiri oleh kita dalam halaqoh. Pembinaan yang sifatnya umum hanya sampai ke peringkat ini, selanjutnya mad’u diperkenalkan kepada dakwah yang lebih syamilah. Tentu saja melalui proses pemilihan yang selektif.
Dari langkah ini, tampaklah kesinambungan dakwah umum dengan pembinaan yang kita lakukan. Dakwah fardiyah berfungsi sebagai pengantar bagi aktifitas dakwah yang lebih mendalam.

UNTUK DIDISKUSIKAN
1.Seandainya antum ditunjuk untuk menjadi salah seorang panitia penerimaan mahasiswa baru di fakultas. Apa yang antum lakukan untuk dakwah? Coba sebutkan secara rinci!
2.Buatlah rancangan rekruiting di fakultas antum selama satu semester yang akan dilaksanakan oleh seluruh aktifis dakwah kampus yang terlibat dalam dakwah yang berada di fakultas dimana antum berada.
3.Gerakan dakwah membutuhkan informasi akurat tentang gerakan haddamah non Islam yang berkembang di kampus antum dan menugaskannya kepada antum. Langkah-langkah apa saja yang akan antum lakukan? Sebutkan satu persatu sehingga informasi itu bisa diperoleh seakurat mungkin.
4.Bagaimanakah menghadapi seorang yang potensial, berminat dengan dakwah kita, tetapi telah mengikuti kelompok dakwah lain.
5.Buatlah daftar hambatan-hambatan dakwah fardiyah yang mungkin antum jumpai di sekolah antum beserta penyelesaian yang mungkin untuk mengatasinya.

Read more...

PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN DAKWAH

Setelah memahami bab ini para aktifis dakwah kampus hendaknya mampu menyelenggarakan dakwah di kampusnya secara ihsan

Para penyelenggara dakwah di berbagai kampus, baik sekolah maupun perguruan tinggi, perlu dibekali dengan kemampuan praktis yang membuatnya lebih mampu untuk bergerak sesuai dengan tuntutan medan dakwah. Tetapi di samping itu mereka harus tetap konsisten dengan aqidah shahihah, fikroh salimah dan manhaj dakwah.



Untuk itu ada 3 (tiga) modal dasar bagi para aktifis dakwah kampus, yaitu:
1.Penguasaan medan dakwah di kampus masing-masing.
Hal ini meliputi penguasaan terhadap medan dakwah, situasi dan kondisi kampus, serta peraturan-peraturan yang berlaku di kampus tersebut. Pengenalan terhadap medan dakwah merupakan keharusan bagi para penyelenggara dakwah sebagaimana telah kita ungkapkan dalam pembicaraan terdahulu.

2.Penguasaan fiqhud dakwah.
Seseorang penyelenggara dakwah kampus hendaknya memahami betul tahapan (marhalah) yang mesti ditempuh sesuai dengan kondisi yang dihadapinya. Sikap tergesa-gesa dan lepas control tidak akan membawa kebaikan bagi dakwah.

Kegiatan dakwah kampus yang difokuskan oleh penyelenggara dakwah hendaknya bersifat umum dengan memilih marhalah yang tepat secara tawazun dan tadarruj. Dengan demikian, lebih memungkinkan untuk cepat membentuk opini Islam. Hendaknya aktifis dakwah kampus jangan menyamakan dakwah aamah dengan pembinaan takwiniyyah sebab dapat menimbulkan fitnah dalam kelangsungan dakwah di kampus tersebut.

3.Ketrampilan menyelenggarakan kegiatan yang menarik.
Ketrampilan ini lahir dari kemampuan manajerial dan kreatifitas yang tinggi. Kemampuan memimpin dan mengelola suatu kegiatan dakwah yang menarik sebenarnya dapat dipelajari dan dilatih. Kesungguhan akan belajar tentu akan membuat Allah memberi kita jalan untuk meningkatkan dakwah ini.

Firman Allah: “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencapai keridhoan Kami, sungguh Kami akan tunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS: Al-Ankabut 69)”

PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN DAKWAH UMUM DI KAMPUS
Setiap aktifis hendaknya memiliki pedoman dasar yang jelas dalam menyelenggarakan dakwah aam di kampus. Sebab lahan dakwah kampus perlu di bina dengan pendekatan yang khas dan sesuai dengan alam berpikir obyek dakwahnya.
Ditinjau dari fiqhud dakwah, beberapa prinsip berikut ini hendaknya diperhatikan oleh para aktifis dakwah kampus:

1.Mengutamakan Dinamika Gerak Bukan Kebekuan.
Dakwah Islam senantiasa bersifat dinamis, kreatif, dan penuh daya hidup. Ini memang telah menjadi ciri khas yang membedakannya dengan seruan-seruan di luar Islam. Sejak awal Islam telah menyatakan perang terhadap jumud dan statisme.
Firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti yang tidak ada pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan diminta pertanggungjawabannya. (QS: Al Isra 36)”

Islam tidak akan mengajarkan ummatnya untuk bersikukuh dengan suatu tradisi tertentu yang dianggap berasal dari agama padahal tidak bersumber dari Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya. Ia membedakan sunnah yang adapt dan syar’i secara jelas, menerima perombakan dalam wasilah (sarana) atau metode (uslub) sepanjang tidak menyalahi aqidah, syari’at atau akhlak.

Obyek dakwah kampus umumnya menaruh perhatian pada sifat dinamis dan aktif, bukan kejumudan atau kebekuan. Dari itu, mahasiswa atau pelajar yang didakwahi hendaknya mendapat kesempatan berdialog secara bebas dan terbuka. Sesungguhnya aqidah dan fikroh Islam itu teruji secara ilmiah sepanjang pengakuan terhadap fitrah tetap dipegang teguh. Berbeda dengan pola-pola hidup jahiliyyah yang menyimpang dari fitroh maupun rasio manusia.

2.Mengutamakan Kesederhanaan Bukan Berlebihan.

Penyelenggaraan dakwah tidak perlu bertumpu pada biaya mahal atau penampilan yang glamour. Apalagi kantong mahasiswa umumnya tidak cukup kuat untuk menanggung beban yang berat sementara mereka sendiri tengak kita ajak ke jalan Allah. Gunakan sarana-sarana yang ada seperti mesjid, ruang kelas, aula dan sebagainya untuk kegiatan dakwah tanpa menentukan biaya yang berat bagi para audiens.

Berbagai organisasi dakwah pemuda yang membina mahasiswa lebih banyak memboroskan biaya ketimbang membentuk opini mahasiswa, ini karena para penyelenggaranya tidak memahami watak Islam itu sendiri.

Firman Allah: “Dan janganlah kamu memboroskan hartamu secara berlebihan. Sesunguhnya pemboros-pemboros itu adalah kawan syaitan dan sesungguhnya syaitan itu amat ingkar kepada Rabb-Nya. (QS: Al-Isra 26-27).

Dalam dakwah kepada mahasiswa, yang terpenting adalah memudahkan para audiens menagkap pesan-pesan Islam bukan kegiatan yang mewah tanpa mencapai target yang berarti.

3.Metodologi Yang Fleksibel.
Dakwah aamah memerlukan berbagai sarana yang komunikatif dalam penyampaiannya. Para pelajar dan mahasiswa sangat partisipatif terhadap penyampaian yang fleksibel, tidak monoton atau membelenggu pemikiran. Penyajian dakwah tidak mesti dengan khutbah atau ceramah saja, tetapi segenap cara boleh digunakan sepanjang tidak bertentangan dengan aqidah, fikroh mapun akhlak. Ini merupakan sifat khas dakwah Islam itu sendiri.

Firman Allah: “Serulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. (QS: An-Nahl 125).
Rasulullah dalam berdakwah selalu menggunakan cara yang mudah, sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh para mad’u-nya.

Beliau Bersabda, “Mudahkanlah (segala urusan) dan janganlah mempersulit ! Dan ajaklah dengan baik, jangan menyebabkan orang menjauh.”

4.Tema Dan Isi Yang Menarik.

5.Terarah Dan Berkesinambungan.

6.Memberikan Keteladanan Dalam Segala Segi.

7.Membentuk Opini Dan Lingkungan Yang Islami.

8.Menuju Kepada Pembinaan Yang Tuntas, Integral, Dan Tidak Parsial.

Read more...

KISAH MANIS PENGORBANAN

>> Rabu, 02 Juli 2008

Semulia-mulia pengorbanan adalah di jalan Allah. Sepahit apapun pengorbanan tersebut, pasti akan terasa manis di ujungnya.
ALKISAH. Tersebutlah tiga orang pemuda bersaudara dari Negeri Syam. Ketiganya adalah penunggang kuda yang gagah berani. Dalam sebuah pertempuran, ketiganya tertangkap dan dijadikan tawanan pasukan Romawi. Selama dalam penahanan ketiganya diperlakukan dengan sangat baik, bahkan segala kebutuhannya dipenuhi. Ternyata, semua itu hanya bujukan belaka agar mereka mau berpindah agama.



Suatu ketika, mereka dihadapkan pada Raja Romawi. "Aku akan mengangkat kamu semua menjadi pejabat istana dan akan kunikahkan dengan puteriku, asal kalian mau berpindah agama," kata Raja Roma.

Ketiganya menolak tawaran itu dan hanya berkata, "Ya, Muhammadah!".
Kesabaran sang raja akhirnya habis. Gagal membujuk dengan cara halus, ia mulai melakukan ancaman dan kekerasan. Di hadapan ketiga pemuda itu disiapkan sebuah kuali besar yang berisi minyak dan di bawahnya dinyalakan api. Tapi pemuda-pemuda itu tetap bersikukuh pada pendiriannya.

Sang raja makin geram. Satu persatu mulai dimasukkan ke dalam kuali. Diawali yang sulung, ia menggelepar kesakitan dengan disaksikan kedua adiknya. Lalu dicampakkan pula pemuda yang tengah. Keduanya syahid dengan cara yang amat mengenaskan; digoreng!.
Tinggalah yang bungsu. Hampir saja ia dilemparkan ke dalam kuali andai saja tidak ditahan oleh seorang pejabat istana,

"Tuanku, jangan dibunuh dulu pemuda ini. Serahkanlah padaku. Aku sanggup membujuknya agar ia keluar dari Islam," usul pejabat tersebut.
"Apa yang akan kamu perbuat?" Tanya raja.

"Saya tahu betul perangai orang Arab. Mereka akan lupa daratan bila dihadapkan pada wanita. Setahu saya tidak ada wanita yang paling cantik di negeri Roma ini secantik anakku. Serahkanlah pemuda itu kepadaku dan akan aku hadapkan kepadanya biar dialah yang akan membujuknya hingga ia mau keluar dari Islam.

Raja setuju dengan gagasan itu dan memberinya waktu empat puluh hari. Pejabat istana itu segera membawa pulang sang pemuda ke rumahnya. Lalu ia diserahkan kepada puterinya yang cantik jelita setelah terlebih dahulu memberitahukan rencananya.

Lalu, keduanya ditempatkan di sebuah ruangan yang terkunci rapat. Siang malam puteri itu membujuk sang pemuda dengan berbagai cara. Tapi sejak itu pula sang pemuda terus-menerus berpuasa di siang hari dan tahajud di malam hari. Hingga batas waktu yang ditentukan terlewati.
Atas kebijakan raja, waktu "menggoda" pun ditambah empat puluh hari lagi. Keduanya diasingkan ke luar ibukota. Lagi-lagi sang puteri harus menemui kegagalan. Bahkan, secara perlahan hatinya mulai dihinggapi cahaya hidayah. Ia luluh melihat keteguhan sang pemuda dalam menjaga agama dan kesucian dirinya. Akhirnya, ia bersyahadat di hadapan sang pemuda.
* * *

MEREKA lalu meninggalkan tempat itu diam-diam. Berhari-hari mereka berjalan meninggalkan Romawi menuju Syam. Selama perjalanan, muncullah benih-benih cinta di antara mereka, hingga keduanya sepakat untuk menikah.

Pada suatu malam, ketika sedang berjalan, terdengarlah bunyi tapak kaki kuda. Tidak lama kemudian muncul dua orang kakak si pemuda yang telah syahid. Mereka dikawal para malaikat, lalu memberikan salam.

"Wahai abangku, bagaimana rasanya dicampakkan ke dalam minyak yang mendidih itu?" tanya si pemuda.

"Hanya sakit sebentar saja. Setelah itu aku ke luar, lalu terbang menuju Firdaus. Adapun kehadiran kami kali ini adalah untuk memberikan selamat atas pernikahanmu dengan gadis itu".
* * *
SAHABAT, pengorbanan sejati adalah panggilan hati. Ia tak mungkin lahir dari paksaan atau ancaman. Dan semulia-mulia pengorbanan adalah di jalan Allah. Sepahit apapun pengorbanan tersebut, pasti akan terasa manis di ujungnya, seperti manisnya kisah tiga pemuda di atas. (Ems)

Read more...

Bidadari Seorang Pendiri Pergerakan

Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah.
----------

Tidak mudah menjadi istri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan dakwah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulai berdakwah dan kembali pulang di gelap malam. Bisa dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang bisa mengisi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.


Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekedar dakwah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus. Imam syahid tengah dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.

Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa kapital disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.

Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.

Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta resiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi logis, yang sewaktu-waktu siap menyapanya.

Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.

Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari betul tuntutan hidup menjadi istri seorang dai.

Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Lathifah tidak pernah mengeluh, walau sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,"Bagaimana jika ia meninggal?". Imam Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar "Kakeknya lebih tau bagaimana mengurusnya."

Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan destruktif. Ketika Imam Syahid bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.

Lathifah sangat menyadari peran dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.

Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah tidahk meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan. Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis.

Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keislamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita seputar dunia Islam. Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini menjadi dokter. Dan Halah sebagai dosen kedokteran anak di Universitas Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain juga untuk anak-anaknya, tentu.

**********************

Sekedar info tambahan:

Hasan Al Banna syahid diusianya yang masih muda, sekitar 40 tahunan. Setelah seberondong timah panas ditembakkan oleh musuh-musuh Islam di sebuah jalan di Kairo.

Sebenarnya Hasan Al Banna masih bisa diselamatkan, tapi karena konspirasi politik para musuh Islam yang dipimpin oleh sang pengkhianat la'natullah Gamal Abden Naser, membuat tubuh Hasan Al Banna yang sedang sekarat dibiarkan tak berdaya, tanpa bantuan dari siapapun juga, termasuk dokter-dokter di Rumah Sakit.

Akhirnya sang pendiri Ikhwanul Muslimun itu pun syahid menemui kekasih tercintanya, Rabbnya.

Musuh-musuh Islam pun banyak yang tertawa dan berpesta dengan syahidnya sang Imam, tapi sesungguhnya Hasan Al Banna tidak pernah pergi meninggalkan pengikutnya.

Allah terlalu mencintai hamba-Nya yang satu ini, sehingga memanggilnya terlebih dahulu.

Hal yang memilukan adalah, meskipun Ikhwanul Muslimun mempunyai puluhan ribu pengikut, tapi tak seorangpun yang diijinkan untuk mensholati jenazah beliau, kecuali ayahnya yang sudah udzur, saudara perempuan dan istrinya.(aharis)

Read more...

Spirit Dari Kemenangan Turky 3-1

>> Sabtu, 21 Juni 2008

Dunia persepak bolaan Eropa gempar, berbagai prediksi-prediksi umum meleset, apa sebab?
Tidak lain adalah karena gugurnya tim-tim raksasa persepak bolanan seperti prancis dan portugal serta di sisi lain turky melesat memasuki semi final ajang bergengsi ini. Situasi ini tentu mengeser perediksi selama ini yang menganggap Turky hanya kuda hitam.





Mungkin bagi kita di Nusantara melihat hal ini biasa-biasa saja karena itu permainan. Namun tentu berbeda bagi masyarakat Turky yang sekarang masih di anak tirikan oleh “Eropa” dalam pengakuan eksistensinya sebagai bagian dari Uni Eropa. Alasan – alasan seperti kondisi ekonomi, penyatuan pulau spirus (persoalan politik dalam negeri) bahkan sampai keyakinan masyarakat turky menjadi alasan-alasan yang berkembang.

Sekarang Turki menorehkan dalam dunia Persepak bolaan bahwa negara yang pernah memimpin kejayaan Islam ini mampu bersanding dalam deretan-deretan sang Juara, dan tentu ini bukan hal mudah bila dilakukan tanpa “Spirit”. bukan spirit kemenanganan Piala eropa saja tentunya, namun spirit Nasionalisme kesejajaran dengan Negara-negara Eropa, bahkan Spirit Eksistensi Keyakinan. itulah alasan-alasan “menganaktirikan” yang bermetamorfosis menjadi sisi lain yaitu “Spirit perubahan”.

Bangsa kita tentu harus bisa mengambil pelajaran dari kemenangan Turky dalam membangun “Spirit Perubahan” tini, karena ada sisi-sisi yang sama antara bangsa kita dan bangsa turkey dalam berbagai aspek yang bisa di pompa untuk memetamorfosis menjadi spirit perubahan. tentunya tidak sekedar mensejajarakan dengan negara-negara Maju bahkan untuk memimpin peradapan di dunia, karana potensi itu terpampang besar di hadapan kita.

Dan perlu di ingat, kita juara olimpiade Fisika internasional loh......

Ayo Bangkit Membangun Sprit Perubahan, Yakinkan Harapan itu Masih Ada ^____^




Read more...

ORIENTASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DALAM TANTANGAN MODERNITAS (sebuah pengantar)

>> Jumat, 23 Mei 2008

Pendidikan dalam sejarah peradaban anak manusia adalah salah satu komponen kehidupan yang paling urgen. Aktifitas ini telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan kalau ditarik mundur lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai berproses semenjak Allah SWT menciptakan manusia pertama Adam di dalam sorga dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh para malaikat belum dikenal sama sekali (QS Al Baqarah: 31-33).

Semenjak berinteraksinya manusia dengan aktifitas pendidikan ini semenjak iu pulalah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia (1).


Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik (2).

Sebagai contoh nyata dari argumen di atas dapat kita lihat dari dua kenyataan berikut:
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yamg pertama spotnic pada 4 oktober 1957, Amerika serikat bergoncang dengan dahsyatnya. Demam spotnic melanda seantero Amerika. Betapa tidak, karena Amerika adalah negara besar pemenang perang dunia II telah kedahuluan oleh Uni Sovyet. Sampai-sampai presiden AS ketika itu membentuk tim khusus untuk merespon kejadian besar ini. Tim tersebut bukan bertugas menyelidiki kenapa Uni Sovyet berhasil mendahului mereka dalam meluncurkan pesawat luar angkasa, melainkan mereka mendapat intruksi lansung dari presiden untuk melakukan suatu tugas yang tidak disangka-sangka oleh para pengamat politik waktu itu. Tugas mereka adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dengan bekerja keras dan dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasi mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulim pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi. Sebuah keputusan yang teramat berani waktu itu. Tapi itulah sebuah konsekwensi kalau hendak berkompetisi dalam kemajuan peradaban.

Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurukulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai kepada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yng sangat luar biasa. Pada tanggal 14 juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perkuliahan (3)
Hasil lain dari itu tentunya dapat disaksikan oleh dunia semuanya dimana AS sekarang telah menjadi kekuatan tunggal setelah runtuhnya US.

Kedua, kejadian yang hampir serupa sebenarnya pernah terjadi di Jepang seusai kekalahan mereka dalam perang dunia II dengan dibom atomnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang praktis lumpuh dalam segala segi kehidupan. Bahkan kaisar jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Belum lagi hukuman sebagai orang yang kalah perang yang melarang Jepang untuk membangun angkatan bersenjata. Semua itu mereupakan hambatan yang sangat besar untuk dapat bangkit dan membangun sebuah peradaban baru. Tapi perkiraan akal manusia tidak selamanya benar. Jepang bangkit perlahan-lahan dengan memperbarui sistem pendidikan mereka dalam semua jenjang pendidikan. Dalam masa yang relatif singkat Jepang berhasil membangun negara mereka menjadi negara yang kuat dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Bahkan mereupakan negara ekonomi terkuat yang menjadi ancaman bagi AS sendiri. Coba kita bandingkan dengan Indonesia yang mulai membangun diri pada waktu yang sama dengan Jepang (kita merdeka 1945 dan Jepang di bom atom 1945). Jepang telah berlari jauh di depan, kita malah masih tertatih-tatih bahkan jalan di tempat dan kadang kala juga mundur ke balakang. Contoh nyata dari kemajuan pendidikan di Jepang adalah berobahnya pengertian buta huruf dikalangan rakyat Jepang. Buta huruf yang sudah tidak ada lagi di Jepang mempunyai pengetian “tidak bisa menggunakan komputer”. Betapa jauhnya pengertian ini dengan pengertian aslinya di kalangan dunia ketiga, yang berarti tidak bisa tulis dan baca.

Dua fenomena di atas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka tunggulah kehancurannya. (bagian I)

Read more...

Kesalehan Sosial

Dengan susah payah, seorang pengemis datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Didorong rasa lapar yang kuat, akhirnya ia meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Hasilnya nihil.

Hampir putus asa, ia mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu.



Tidak lama setelah itu, Rasulullah saw memasuki masjid. Nabi melihat pengemis itu lalu mendekatinya.
''Adakah orang yang telah memberimu sedekah?''
''Ya, alhamdulillah.''
''Siapa dia?''
''Orang yang sedang berdiri itu,'' kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.
''Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?''
''Sedang rukuk!''
''Ia adalah Ali bin Abi Thalib,'' kata nabi. Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, ''Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.'' (Al-Maidah: 56)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu ''Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).'' (Al-Maidah: 55). Asbabun-nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shofyan Ats-Tsauri.

Dalam kisah tersebut kita dapat melihat bagaimana nabi memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah SWT menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali telah membuktikan bahwa kesalehan dirinya bukan hanya pada taraf untuk dirinya dan kepada Tuhan, atau sebatas kesalehan ritual, tetapi ia wujudkan kesalehan lain, yaitu kesalehan sosial.

Kesalehan yang diwujudkan Ali bisa dijadikan teladan bahwa semestinya kesalehan ritual dapat mengantarkan seseorang pada kesalehan sosial. Ini karena memang kesalehan ritual sangat mendukung untuk itu. Karena itu, semestinya kita tidak bisa shalat dengan khusyuk ketika tetangga kita dan kawan-kawan kita masih membutuhkan uluran tangan. Juga sangat aneh jika sebuah masjid penuh sesak dihadiri para tamu-Nya, dan yang shalat di dalamnya tidak sedikit yang bermobil, sementara di samping masjid itu kawasan kumuh masih merajalela, para pengemis di emperan masjid masih berkeliaran.

Read more...

Quo Vadis Pendidikan Indonesia

>> Jumat, 02 Mei 2008

Hari ini 2 mai,bangsa kita sedang merayakan hari pendidikan nasional bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hajar Dewantara (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat) sesosok anak bangsa yang menjadi mascot pendidikan Indonesia, dengan sebuah ajarangnya yang sangat termasyur yaitu tut wuri handayani dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan, ing madya mangun karsa di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dan ing ngarsa sung tulada di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik. Sebuah runtutan kalimat yang memiliki semangat morality dan kemajuan.

Namun bagai manapendidikan Indonesia sekarang????




Bila kita ingin jujur mengevaluasi pendidikan kita, maka tentu kita akan sangat miris dengan fakta-fakta dilapangan diantaranya seorang pendidik mengajarkan menyontek saat UN kemarin kepada anak didiknya, hanya karena ingin menghilangkan malu takut-takut anak didiknya tidak lulus, atau ada juga kisah seorang juara kelas yang gantung diri karena tidak mampu membayar SPP di bangku SD, ataupun bahkan seorang dosen yang kepergok oleh satpol PP di sebuah kamar hotel bersama mahasiswinya, sedang memadu cinta haram demi sebuah kelulusan mata kuliah, atau atau masih banyak lagi fakta di lapangan yang tertera indah di halaman-halaman surat kabar akhir-akhir ini….!



Kalo kita melihat kebelakang dengan keterbatasanya bangsa indonesia akibat penjajahan-penjajahan selama beratus-ratus tahun lamanya, namun bangsa kita mampu melahirkan tokoh-tokoh yang di akui kematangan ilmunya di dunia internasional sebut saja HAMKA seorang tokoh pergerakan nasional yang tidak mengikuti jenjang pendidikan seperti sekarang namun beliau mendapat dua gelar doctor hanaus kausa dari dua perguruan tinggi didiluar negeri, atau bagaimana kita mendapati kisah heoik para guru-guru kita yang dikirim ke Malaysia pada tahun 60 an untuk mencerdaskan saudara serumpun kita tersebut, namun sekarang banyak anak bangsa kita yang belajar kenegeri itu, jelas dengan alasan bahwa tingkat/ pasing grate universitas-universitas di Malaysia lebih baik dibanding universita-universitas di bumi pertiwi ini.



Sebuah jawaban yang pasti bahwa pendidikan Indonesia sedang mengalami terjun bebas dalam upaya menggapai tujuannya, seperti termaktub dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, bahwa cita-cita dan tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan, ya kini kita sedang terjun bebas menjauhi tujuan-tujuan yang telah kita buat sendiri.



Menurut hemat penulis ada beberapa sebab yang menyebabkan kemunduran2 ini :

Nah MP-ers sekalian ape nih biar kita bias diskusi ?????? di tunggu ya pendapatnya???

^_________^


Read more...

Bila Hidup Diatur Oleh Allah ?

>> Minggu, 27 April 2008

"Dan kepunyaan ALLAH-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah ALLAH Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui." "
(QS. 2:115)
Tidak banyak di antara kita yang sanggup bersungguh-sungguh menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat yang Maha Mengurus makhluk-makhluknya. Jantung yang berdetak teratur. Darah yang dipompakan dan dialirkan ke seluruh tubuh. Kedip mata, yang kadang kita sendiri tak menyadarinya. Bisakah kita mengaturnya walau barang sedetik?




Lalu, kaki pun dilangkahkan di pagi buta menuju suatu tempat. Kadang-kadang terburu-buru dan berharap tiba lebih cepat di tujuan. Tiba dijalan kebetulan sebuah kendaraan mobil melintas di hadapan. Tanpa di stop, mobil itu ternyata berhenti sendiri. Kebetulan ternyata pengemudinya seorang teman akrab. Kebetulan pula tempat yang ditujunya sama. Namun, betulkah semua itu sekadar faktor "kebetulan" belaka?
Terjadinya sering merasakan serba "kebetulan", ini pun satu bukti mengenai keterbatasan kita dalam memahami hakikat suatu kejadian. Padahal, Allah-lah yang mengurus makhluk-makhluk-Nya dan Dia pula yang menetapkan segala kejadian sekecil apapun. Tiada sehelai rambut yang terlepas dari kulit kepala atau selembar daun yang gugur ketanah, kecuali terjadinya dengan ijin Allah. Adakah dengan begitu suatu kejadian terjadi secara kebetulan? Masya Allah, Dia-lah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Sekai-kali tak ada satu kekuatan pun yang mampu mengatur suatu kejadian, selain karena ijin-Nya!
Subhanallah, mudah-mudahan Allah yang Maha Perkasa membukakan bagi kita pintu hikmah-Nya agar kita mampu memetik "ilmu" dibalik segala kejadian. Suatu "ilmu" yang dapat menjadi jalan bagi kita agar semakin mengenal-Nya. Akan dituturkan dua kejadian yang sepintas tampak sepele, tetapi demi Allah, di sinilah terbuktikan kemahabesaran Dia yang dengan amat mengesankan telah mengatur suatu kejadian, yang justru sepintas tampak seperti serba "kebetulan".
Kejadian pertama, ketika sebuah keluarga tengah melakukan perjalanan pulang ke suatu kota dengan kendaraan pribadi. Salah seorangnya adalah ibu yang tampak sudah renta dan uzur, sehingga perlu perlakuan khusus.
Di tengah perjalanan, masuk waktu shalat. Dicarilah masjid yang berandanya teduh agar ibu tersebut bisa istirahat sementara dengan nyaman. Setelah melewati beberapa masjid, maka ditemukanlah sebuah masjid dengan beranda yang teduh.
Ketika mobil hendak diparkirkan, ternyata sulit mendapat tempat parkir yang cukup. Mobil pun terus dilajukan pelan-pelan, sampai akhirnya mentok di sebuah pelataran. Ternyata pelataran tersebut letaknya dekat sekali dengan tempat wudhu. Akan tetapi, ibu yang sudah uzur itu kan juga mungkin perlu ke kamar kecil dan berwudhu? Masya Allah, bukankah tempat wudhu tersebut ternyata khusus untuk wanita? Muncul pula persoalan lain, yakni perlu kursi untuk duduk karena memang si ibu sudah tak kuat berdiri. Namun, subhanallah, ternyata kursi yang dibutuhkan itu memang sudah ada pula dekat tempat wudhu tersebut.
Semua seperti terjadi secara kebetulan. Segalanya seperti sudah ada orang yang mengatur dan menyiapkannya. Padahal, Allah-lah yang memang Maha Mampu menyiapkan segala-galanya. Sekiranya kita pela menangkap momen-momen kejadian ini dengan hati yang penuh cahaya iman, niscaya akan semakin mampu mengagumi Kemahaperkasaan-Nya dan menangkap hikmah (pelajaran) di balik segala kejadian.
Kejadian kedua menimpa seorang mubaligh yang juga tengah melakukan perjalanan malam hari menuju Jakarta dengan diantar beberapa orang di dalam kendaraannya. Mobil meluncur masuk jalan tol jagorawi. Namun, di tengah perjalanan, mesin mobil tiba-tiba mati karena kehabisan bensin. Kehabisan bensin di tengah jalan tol di malam hari yang gelap gulita. Jauh ke sana ke mari, adakah yang bisa diperbuat, selain bertumpuk kekesalan, kedongkolan dan kekecewaan?
Mengapa persiapannya tidak disempurnakan? Mengapa sebelum berangkat tadi tidak membeli bensin yang cukup? Mengapa sampai berbuat lalai, padahal Allah telah mengajari manusia supaya peka dan senantiasa berhati-hati? Dan sejumlah pertanyaan "Mengapa" yang lain pun meluncur dari mulut?
Tetapi, sudahlah. Toh kejadiannya sudah terjadi. Maka, persenelling pun di-prei-kan dan kopling pun diinjak. "Biarlah Allah yang menghentikan kendaraan ini ditempat yang Dia sukai. Kita taubat dan berdzikir saja. Kita tak perlu lagi terus-menerus mengeluh," ujarnya. Akhirnya mobil itupun melaju perlahan dan semakin perlahan, sehingga berhenti sendiri di pinggir jalan.
Tak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba dirasakan ingin buang air kecil. Mubaligh itupun turunlah dari mobil dan berjalan mencari tempat yang agak terlindung. Akan tetapi, ternyata dari arah jalan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berseliweran cepat di jalan tol masih menyorot kearahnya, sehingga ia pun terus berjalan sampai mendekati pagar kawat pembatas.
Sepintas ia melihat ternyata di bagian tertentu dari pagar yang dihampirinya ada bolong besar seperti sengaja dibuat orang untuk dapat dilalui. Dan ketika ia lebih cermat lagi mengamatinya, ternyata di dekatnya ada plang dengan tulisan sederhana berbunyi: "Di sini jual bensin dua tax". Allahu Akbar!
Memang Allah Maha Pengatur kejadian yang Maha Sempurna. Betapa lezatnya jika kita mampu menangkap isyarat-Nya bahwa segala kejadian yang tampaknya serba kebetulan itu sebenarnya sudah diatur oleh Allah. Kita saja yang kerapkali tidak peka membaca aneka lintasan kejadian yang memang telah begitu pas dan rapi diatur oleh Allah SWT. Akibatnya, kalbu (hati) ini hampir tidak pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya merasakan hikmah (pelajaran) di balik segala fenomena yang terjadi.
Tampaknya dalam mengarungi kehidupan ini kita harus sungguh-sungguh minta di atur oleh Allah. Boleh saja kita sibuk merencanakan sesuatu dengan baik. Otak seratus persen kita gunakan untuk mengatur taktik dan strategi sesuai dengan syari'at yang kita ketahui. Tubuh pun sibuk berikhtiar, berkuah peluh simbah keringat, semampu yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, keyakinan hati tetap pada satu hal, yakni biarlah Allah mengatur segala urusan kita. Karena, Dialah yang Maha Tahu hal yang terbaik dan yang terburuk menurut perhitungan-Nya.
Inginkah kita termasuk orang yang memiliki kalbu (hati) yang peka, lezat menikmati episode demi episode kejadian dalam hidup ini, dan yakin seyakin-yakinnya bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah diatur oleh Allah? Kuncinya ternyata sederhana saja. Yakni, akuilah bahwa diri kita ini tak lebih dan tak kurang hanya seorang hamba, yang sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Dia, Dzat Pemilik Jagat raya alam semesta ini. Ah, siapalah kita ini. Hanya sesosok makhluk yang tiada memiliki daya dan upaya, tanpa ijin dan kehendak-Nya.
Tak heran kalau Imam Ibnu Atho'illah dalam kitabnya, Al Hikam, berujar, "Buktikanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan Kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemulyaan-Nya. Akuilah kekurangannmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Dan akuilah kelemahanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuatan-Nya." Sungguh betapa sangat indahnya bila hidup dan segala aktifitas kita diatur oleh-Nya. Wallahualam Bis Shawab.

Read more...

detiknews - detiknews

PKS : Partai Keadilan Sejahtera Pemilu Pilkada 2009

Kompas